Sabtu, 22 April 2023.
Lantunan suara takbir di esok hari mengalahkan
suara kicauan burung yang selalu kudengar di setiap hariku. Lantunan itu menandakan
tibanya hari raya Idul Fitri. Para kumpulan manusia sedang berbondong-bondong
untuk melaksanakan ibadah salat id. Kami berjalan menuju lapangan dan menyapa
orang sekitar sembari berpapasan dengan mereka. Para lelaki tampak berwibawa
dengan baju kokonya. Sedang para wanita tampak anggun mengenakan gaun dan bersolek
ala kadarnya. Ibuku terlihat cantik rupawan dengan tunik hijaunya. Tunik itu
pemberian dari putra sulungnya. Ia pantas mengenakannya.
Selepas melaksanakan salat id
bersama para jemaah muslim lainnya, kami pulang untuk melaksanakan tradisi sungkeman
yang tidak pernah kami lewatkan dari tahun ke tahun. Aku menekuk lutut untuk
menghadap kedua orang terkasihku. Ayah dan Ibu. Sembari meraih tangannya untuk
kujabat, kepalaku merunduk. Dengan haru, aku meluapkan semua rasa penyesalan
dan permohonan ampunku. Seketika air mata tak dapat kubendung, emosiku membuncah, hanyut dalam suasana haru.
Pagi hari setelahnya, aku beranjak
dari kasurku dan memandangi halaman belakang rumahku. Aku menghampiri ayahku
yang kala itu sedang terduduk santai di gazebo dengan sebatang rokok di tangan
kirinya. Semburan asap rokoknya menghiasi udara di sekelilingnya. Sedang secangkir
kopi hitam yang ia tenggak dapat mengisi energinya untuk menyampaikan bahan
obrolan denganku. Aku senang berbincang dengannya, selalu ada topik hangat
yang dapat kami bahas. Guliran tawa dan
canda seakan mengalir begitu saja. Di saat yang bersamaan, Ibuku mempersiapkan
berbagai masakan yang akan dihidangkan untuk sanak saudara yang akan datang. Aku
sedikit membantu.
Pagi itu, sinar mentari masih terasa
damai, satu per satu mulai hadir, terutama saudari Ibu yang nonmuslim, sebut saja
bude. Bude selalu menampakkan dirinya pada setiap pertemuan hari raya kami. Kami
selalu menyambutnya dengan baik. Lebaran Idul Fitri dan Idul Adha sudah menjadi miliknya sejak dahulu. Tangannya penuh dengan kejaiban, oalahan masakannya
lezat, bumbunya meresap dengan sempurna. Kami selalu merasa terhipnotis, ketika
menyicipi masakannya. Kepenatan hilang dirasa, ketika gelak tawa menghiasi
seluruh sisi bangunan rumah. Mentari terik kala itu, beberapa di antara mereka
memutuskan untuk pulang.
Jarum jam berpusing dengan menelan sisa-sisa detik yang hari itu kita miliki. Masa itu kulalui dengan bersuka hati. Sayang, kami terpisah oleh tangguhnya durasi waktu.
